Umum

ISO 14067:2018: Mengukur Carbon Footprint Produk untuk Bisnis yang Lebih Berkelanjutan

calendar_today 01 September 2026 visibility 74 dilihat
ISO 14067:2018: Mengukur Carbon Footprint Produk untuk Bisnis yang Lebih Berkelanjutan

Ketika konsumen membeli sebuah produk, biasanya yang diperhatikan adalah harga, kualitas, merek, dan manfaatnya.

Namun, semakin banyak perusahaan dan konsumen mulai mempertanyakan hal lain:

Berapa besar emisi karbon yang dihasilkan produk tersebut?

Sebuah produk tidak hanya memiliki biaya produksi. Di sepanjang siklus hidupnya, produk juga dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, penggunaan energi, transportasi, hingga akhir masa penggunaannya.

Jejak emisi tersebut dikenal sebagai Carbon Footprint of Product (CFP) atau jejak karbon produk.

Untuk membantu organisasi melakukan pengukuran secara sistematis, terdapat ISO 14067:2018 – Greenhouse gases — Carbon footprint of products — Requirements and guidelines for quantification.

Standar ini memberikan prinsip, persyaratan, dan panduan untuk melakukan kuantifikasi serta pelaporan jejak karbon suatu produk dengan pendekatan yang konsisten dengan standar Life Cycle Assessment (LCA), yaitu ISO 14040 dan ISO 14044.

Apa Itu ISO 14067:2018?

ISO 14067:2018 adalah standar internasional yang digunakan sebagai acuan untuk menghitung dan melaporkan carbon footprint of a product (CFP).

Secara sederhana, standar ini membantu perusahaan menjawab pertanyaan:

"Berapa besar emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan produk yang kami hasilkan?"

Pengukuran dilakukan dengan mempertimbangkan emisi dan penghilangan gas rumah kaca yang relevan dalam sistem produk dan dinyatakan dalam satuan CO₂ equivalent (CO₂e). ISO 14067 berfokus pada satu kategori dampak lingkungan, yaitu perubahan iklim (climate change).

Dengan demikian, ISO 14067 bukan sekadar menghitung berapa banyak listrik yang digunakan pabrik.

Pendekatannya jauh lebih luas karena dapat melihat berbagai tahapan dalam siklus hidup produk.

Mengapa Carbon Footprint Produk Penting?

Bayangkan sebuah perusahaan memproduksi botol minuman.

Emisi karbon produk tersebut tidak hanya berasal dari mesin yang digunakan di pabrik.

Ada bahan baku yang harus diperoleh.

Bahan baku harus dikirim ke fasilitas produksi.

Produk kemudian diproses menggunakan energi.

Setelah selesai, produk dikemas dan didistribusikan.

Produk digunakan oleh konsumen.

Pada akhirnya, kemasan atau produk tersebut akan masuk ke tahap akhir masa hidupnya.

Setiap tahapan tersebut dapat memiliki kontribusi terhadap jejak karbon.

Artinya, jika perusahaan hanya menghitung emisi dari aktivitas pabrik, perusahaan mungkin belum mendapatkan gambaran lengkap mengenai jejak karbon produknya.

Inilah pentingnya pendekatan berbasis siklus hidup.

Apa yang Diukur dalam Carbon Footprint Produk?

Carbon footprint produk pada dasarnya berkaitan dengan emisi dan penghilangan gas rumah kaca yang terjadi dalam sistem produk.

Gas rumah kaca tersebut kemudian dikonversikan ke dalam satuan yang umum digunakan, yaitu CO₂ equivalent (CO₂e).

Secara sederhana:

Carbon Footprint Produk = Total Emisi GHG – Penghilangan GHG yang Relevan

Hasil akhirnya dapat digunakan untuk memahami besarnya kontribusi suatu produk terhadap dampak perubahan iklim.

Namun, perhitungan sebenarnya membutuhkan metode, data, batas sistem, asumsi, dan faktor emisi yang tepat.

Karena itu, pengukuran carbon footprint bukan sekadar memasukkan angka konsumsi listrik ke dalam kalkulator.

Pendekatan Life Cycle Assessment

ISO 14067 menggunakan pendekatan yang konsisten dengan prinsip Life Cycle Assessment (LCA) sebagaimana terdapat dalam ISO 14040 dan ISO 14044.

Secara sederhana, pendekatan ini melihat produk dari berbagai tahapan kehidupannya.

Misalnya:

Bahan Baku → Produksi → Distribusi → Penggunaan → Akhir Masa Produk

Pendekatan tersebut membantu perusahaan melihat dari mana emisi terbesar sebenarnya berasal.

Contohnya, perusahaan mungkin menemukan bahwa:

  • bahan baku menyumbang emisi terbesar;
  • proses produksi menjadi sumber emisi berikutnya;
  • transportasi memiliki kontribusi tertentu;
  • sedangkan tahap penggunaan justru menghasilkan emisi paling besar.

Informasi seperti ini sangat penting karena membantu perusahaan menentukan prioritas pengurangan emisi.

Cradle-to-Grave dan Partial Carbon Footprint

Pengukuran carbon footprint dapat dilakukan dengan cakupan yang berbeda sesuai tujuan studi.

Salah satunya adalah pendekatan cradle-to-grave, yaitu melihat siklus hidup produk dari pengadaan bahan baku hingga akhir masa hidup produk.

ISO juga memungkinkan penghitungan partial CFP untuk cakupan tertentu.

Misalnya perusahaan ingin mengetahui jejak karbon produk hanya sampai produk keluar dari fasilitas produksi.

Pendekatan seperti ini dapat dikenal sebagai cradle-to-gate.

Yang penting adalah perusahaan menetapkan batas sistem secara jelas sehingga hasil pengukuran dapat dipahami dengan benar.

Contoh Sederhana: Produk Makanan

Misalnya sebuah perusahaan memproduksi makanan kemasan.

Untuk mengetahui carbon footprint produknya, perusahaan dapat melihat beberapa tahapan:

Bahan Baku

Berapa emisi yang berkaitan dengan produksi dan pengadaan bahan baku?

Transportasi

Berapa emisi yang muncul ketika bahan baku dikirim ke fasilitas produksi?

Produksi

Berapa energi yang digunakan dalam proses produksi?

Kemasan

Apa bahan yang digunakan untuk kemasan dan bagaimana proses produksinya?

Distribusi

Bagaimana produk dikirim dari pabrik ke distributor atau pelanggan?

Penggunaan

Apakah produk membutuhkan energi selama digunakan?

Akhir Masa Produk

Apa yang terjadi terhadap produk atau kemasannya setelah digunakan?

Dari data tersebut, perusahaan dapat menyusun gambaran mengenai jejak karbon produk.

Mengapa Data Menjadi Sangat Penting?

Perhitungan carbon footprint membutuhkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Contohnya:

  • jumlah bahan baku;
  • konsumsi listrik;
  • penggunaan bahan bakar;
  • jarak transportasi;
  • jumlah produk;
  • jenis kemasan;
  • proses produksi;
  • data penggunaan produk;
  • serta informasi lain yang relevan.

Semakin baik kualitas data yang digunakan, semakin baik pula dasar pengukuran carbon footprint.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem pencatatan dan pengelolaan data yang memadai.

Tanpa data yang baik, hasil pengukuran carbon footprint juga akan sulit digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Bagaimana Cara Menghitung Carbon Footprint Produk?

Secara sederhana, proses pengukuran dapat digambarkan sebagai:

Tentukan Tujuan → Tentukan Batas Sistem → Kumpulkan Data → Hitung Emisi → Evaluasi Hasil → Laporkan

1. Menentukan Tujuan

Perusahaan perlu menentukan mengapa carbon footprint produk ingin dihitung.

Apakah untuk kebutuhan internal?

Untuk mengetahui peluang pengurangan emisi?

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan?

Atau untuk mendukung strategi keberlanjutan perusahaan?

Tujuan akan memengaruhi bagaimana studi dilakukan.

2. Menentukan Batas Sistem

Perusahaan perlu menentukan tahapan siklus hidup apa saja yang termasuk dalam pengukuran.

Misalnya:

Cradle-to-Gate

atau

Cradle-to-Grave

Batas sistem harus ditetapkan secara jelas.

3. Mengumpulkan Data

Kumpulkan data aktivitas yang relevan, seperti konsumsi energi, penggunaan bahan baku, transportasi, proses produksi, dan aktivitas lainnya.

4. Menghitung Emisi

Data aktivitas kemudian digunakan bersama faktor emisi yang sesuai untuk menghitung kontribusi emisi gas rumah kaca.

5. Mengevaluasi Hasil

Setelah hasil diperoleh, perusahaan dapat melihat proses atau tahapan mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap carbon footprint.

6. Melaporkan Hasil

Hasil studi perlu disajikan secara transparan sehingga pengguna informasi dapat memahami bagaimana carbon footprint tersebut dihitung.

Carbon Footprint Bukan Sekadar Angka

Misalnya sebuah produk memiliki carbon footprint:

5 kg CO₂e per produk.

Apakah angka tersebut bagus atau buruk?

Tidak bisa langsung disimpulkan.

Angka tersebut perlu dilihat dalam konteks:

  • bagaimana batas sistem ditentukan;
  • data apa yang digunakan;
  • metode perhitungan;
  • periode pengukuran;
  • jenis produk;
  • fungsi produk;
  • serta asumsi yang digunakan.

Karena itu, angka carbon footprint harus dipahami bersama metodologi yang digunakan untuk menghasilkan angka tersebut.

Bagaimana Carbon Footprint Membantu Perusahaan?

Pengukuran carbon footprint dapat memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan.

Menemukan Sumber Emisi Terbesar

Perusahaan dapat mengetahui tahapan mana dalam siklus hidup produk yang memberikan kontribusi emisi terbesar.

Menentukan Prioritas Pengurangan Emisi

Tidak semua aktivitas memiliki kontribusi yang sama.

Dengan data carbon footprint, perusahaan dapat memprioritaskan area yang memberikan dampak terbesar.

Mendukung Perbaikan Desain Produk

Hasil pengukuran dapat digunakan untuk mengevaluasi bagaimana perubahan desain atau material dapat memengaruhi carbon footprint produk. ISO sendiri menyebutkan bahwa metode dalam ISO 14067 dapat membantu organisasi menilai dampak perubahan desain terhadap CFP.

Mendukung Strategi Keberlanjutan

Data carbon footprint dapat menjadi bagian dari informasi yang digunakan perusahaan dalam menetapkan strategi lingkungan dan pengurangan emisi.

Meningkatkan Transparansi

Pengukuran yang dilakukan secara sistematis dapat membantu perusahaan menyediakan informasi lingkungan yang lebih terstruktur kepada pihak yang relevan.

Carbon Footprint Produk dan Konsumen

Di masa depan, informasi mengenai jejak karbon produk dapat menjadi semakin penting bagi konsumen.

Bayangkan konsumen memiliki dua produk dengan fungsi yang hampir sama.

Produk A memiliki carbon footprint yang lebih rendah dibandingkan Produk B.

Jika informasi tersebut tersedia dengan cara yang kredibel dan dapat dibandingkan, konsumen dapat mempertimbangkan aspek lingkungan dalam keputusan pembelian.

Karena itu, pengukuran carbon footprint bukan hanya bermanfaat bagi perusahaan.

Informasi tersebut juga dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih sadar terhadap dampak lingkungan. ISO menjelaskan bahwa hasil pengukuran CFP dapat memberikan informasi untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih terinformasi.

ISO 14067 Berbeda dengan ISO 14001

Keduanya sama-sama berkaitan dengan lingkungan, tetapi memiliki fokus yang berbeda.

ISO 14001 ISO 14067
Sistem Manajemen Lingkungan Carbon Footprint Produk
Fokus pada sistem manajemen organisasi Fokus pada kuantifikasi CFP
Mencakup berbagai aspek lingkungan dalam sistem manajemen Berfokus pada kategori dampak perubahan iklim
Dapat diterapkan pada organisasi Digunakan untuk studi carbon footprint produk
Menekankan pengelolaan dan peningkatan kinerja lingkungan Menekankan kuantifikasi dan pelaporan CFP

Jadi, ISO 14001 dan ISO 14067 bukan standar yang sama dan memiliki tujuan yang berbeda.

Keduanya bahkan dapat digunakan secara saling melengkapi dalam strategi pengelolaan lingkungan organisasi.

Apakah ISO 14067 Merupakan Standar Sertifikasi?

Ini merupakan hal yang penting untuk dipahami.

ISO 14067:2018 secara spesifik menetapkan prinsip, persyaratan, dan panduan untuk kuantifikasi dan pelaporan carbon footprint produk.

Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menyederhanakan ISO 14067 hanya sebagai "sertifikat carbon footprint".

Yang lebih tepat adalah memahami ISO 14067 sebagai standar untuk melakukan studi dan kuantifikasi CFP secara sistematis.

Dalam praktiknya, hasil penghitungan carbon footprint dapat melalui proses verifikasi atau assurance sesuai skema dan kebutuhan yang berlaku.

Hal ini penting agar informasi mengenai carbon footprint memiliki tingkat kredibilitas yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Apakah ISO 14067 Hanya untuk Produk Fisik?

Tidak selalu.

Pendekatan carbon footprint produk dapat digunakan untuk berbagai jenis produk, termasuk barang dan layanan, selama objek dan batas studi dapat ditentukan dengan tepat.

Artinya, konsep carbon footprint tidak hanya relevan bagi perusahaan manufaktur.

Perusahaan jasa juga dapat menghadapi kebutuhan untuk memahami dampak iklim yang berkaitan dengan layanan yang diberikan.

ISO 14067 dan Pengurangan Emisi

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap menghitung carbon footprint sama dengan mengurangi emisi.

Padahal keduanya berbeda.

Mengukur adalah langkah pertama.

Setelah perusahaan mengetahui sumber emisinya, perusahaan dapat menentukan tindakan yang tepat.

Misalnya hasil pengukuran menunjukkan bahwa:

60% emisi berasal dari bahan baku.

Perusahaan kemudian dapat mengevaluasi:

  • apakah ada material alternatif;
  • apakah pemasok memiliki opsi dengan emisi lebih rendah;
  • apakah desain produk dapat diubah;
  • apakah penggunaan material dapat dikurangi;
  • atau apakah proses produksi dapat dibuat lebih efisien.

Dengan demikian:

Ukur → Pahami → Prioritaskan → Kurangi → Pantau

menjadi pendekatan yang lebih efektif daripada sekadar menetapkan target pengurangan emisi tanpa mengetahui sumbernya.

Langkah Awal Perusahaan Mengukur Carbon Footprint

Bagi perusahaan yang baru mulai, beberapa langkah berikut dapat menjadi titik awal.

1. Tentukan Produk yang Akan Dikaji

Tidak harus langsung seluruh produk.

Perusahaan dapat memulai dari satu produk atau kelompok produk tertentu.

2. Tentukan Tujuan Pengukuran

Tentukan kebutuhan dan tujuan studi sejak awal.

3. Petakan Siklus Hidup Produk

Identifikasi tahapan dari bahan baku hingga akhir masa produk sesuai batas sistem yang dipilih.

4. Identifikasi Sumber Emisi

Cari tahu aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca pada setiap tahapan.

5. Siapkan Data

Bangun sistem pengumpulan data yang konsisten dan dapat ditelusuri.

6. Lakukan Perhitungan

Gunakan metode dan faktor emisi yang sesuai dengan tujuan serta batas studi.

7. Analisis Hasil

Cari tahu sumber emisi terbesar dan peluang pengurangannya.

8. Dokumentasikan dan Laporkan

Dokumentasikan metode, data, asumsi, hasil, dan informasi relevan lainnya secara transparan.

ISO 14067:2018 Masih Berlaku?

Ya.

Berdasarkan informasi resmi ISO, ISO 14067:2018 saat ini masih merupakan edisi yang berlaku dan telah dikonfirmasi tetap current pada 2024. Namun, ISO juga mencatat bahwa standar tersebut sedang dalam proses revisi dan terdapat ISO/WD 14067.2 sebagai draft pengembangan edisi berikutnya.

Artinya, perusahaan yang menggunakan ISO 14067:2018 saat ini tetap perlu memperhatikan perkembangan revisinya.

Namun, draft yang sedang dikembangkan belum merupakan standar final dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai pengganti resmi ISO 14067:2018.

Kesimpulan

Setiap produk meninggalkan jejak.

Jejak tersebut tidak hanya berupa kemasan atau limbah setelah produk digunakan, tetapi juga dapat berupa emisi gas rumah kaca yang muncul sepanjang siklus hidup produk.

ISO 14067:2018 membantu organisasi melakukan pengukuran dan pelaporan Carbon Footprint of Product (CFP) secara sistematis dengan pendekatan yang konsisten dengan Life Cycle Assessment.

Dengan mengetahui carbon footprint produk, perusahaan dapat:

  • memahami sumber emisi;
  • menentukan prioritas perbaikan;
  • mengevaluasi desain dan material;
  • meningkatkan efisiensi;
  • mendukung strategi keberlanjutan; dan
  • menyediakan informasi lingkungan yang lebih terukur.

Pada akhirnya, mengukur carbon footprint bukan hanya tentang mendapatkan sebuah angka.

Yang lebih penting adalah memahami apa yang ada di balik angka tersebut dan menggunakannya untuk membuat produk serta proses bisnis menjadi lebih baik.

Bagi perusahaan yang ingin mulai memahami dan mengelola carbon footprint produk, penerapan pendekatan berbasis ISO 14067:2018 dapat menjadi salah satu langkah penting menuju pengelolaan lingkungan dan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan.

NSM – Nasional Sertifikasi Mutu membantu organisasi memahami berbagai standar dan pendekatan sistem manajemen sesuai kebutuhan organisasi, termasuk pengelolaan lingkungan dan pengukuran carbon footprint produk.

Bagikan Artikel Ini

share Facebook share Twitter share LinkedIn chat WhatsApp
arrow_back Kembali ke Semua Artikel

Butuh Konsultasi Sertifikasi ISO?

Tim ahli NSM siap membantu Anda dari konsultasi awal hingga sertifikasi selesai.

chat Konsultasi Gratis Sekarang