Berita

Satu Makanan Tidak Layak, Seluruh Paket MBG Wajib Dikembalikan: Pentingnya Food Safety dan Traceability di SPPG

calendar_today 15 August 2026 visibility 137 views
Satu Makanan Tidak Layak, Seluruh Paket MBG Wajib Dikembalikan: Pentingnya Food Safety dan Traceability di SPPG

Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu ketentuan yang ditegaskan adalah apabila ditemukan satu bagian makanan yang tidak layak, maka seluruh paket makanan tersebut tidak boleh dikonsumsi dan harus dikembalikan.

Ketentuan ini disampaikan BGN pada 12 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memastikan makanan yang diterima penerima manfaat memenuhi standar keamanan pangan.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian keamanan pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak dapat dilakukan hanya dengan memeriksa satu jenis makanan secara terpisah.

Setiap komponen dalam satu paket perlu dipandang sebagai bagian dari satu sistem pengendalian keamanan pangan.

Mengapa Satu Komponen Dapat Mempengaruhi Seluruh Paket?

Dalam produksi makanan dalam jumlah besar, satu masalah dapat menjadi indikasi adanya potensi masalah pada proses yang lebih luas.

Misalnya, apabila ditemukan makanan yang mengalami perubahan kualitas, kontaminasi, atau kondisi yang tidak memenuhi persyaratan, pengelola perlu mempertimbangkan apakah masalah tersebut hanya terjadi pada satu porsi atau berkaitan dengan proses produksi yang sama.

Karena makanan dalam satu batch diproduksi melalui proses yang relatif sama, tindakan menahan atau mengembalikan seluruh paket merupakan bentuk pengendalian risiko untuk mencegah makanan yang berpotensi tidak aman dikonsumsi.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan prinsip preventive food safety, yaitu mencegah produk yang berpotensi berbahaya sampai kepada konsumen.

Hubungannya dengan HACCP

Konsep tersebut memiliki hubungan erat dengan pendekatan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

HACCP menekankan identifikasi bahaya dan pengendalian pada tahapan proses yang penting. Artinya, pengelola tidak hanya melihat kondisi makanan ketika sudah selesai diproduksi, tetapi juga mengendalikan proses sejak bahan baku diterima hingga makanan didistribusikan.

Dalam konteks SPPG, beberapa tahapan yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:

  • penerimaan bahan baku;
  • pemeriksaan kualitas bahan;
  • penyimpanan;
  • persiapan bahan;
  • proses pemasakan;
  • pengendalian suhu;
  • pengemasan;
  • penyimpanan sementara;
  • distribusi;
  • hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Jika terjadi ketidaksesuaian pada salah satu tahapan tersebut, pengelola harus memiliki prosedur untuk menentukan apakah produk masih dapat digunakan, harus ditahan, atau harus ditarik.

Traceability Menjadi Semakin Penting

Kebijakan pengembalian seluruh paket juga memperlihatkan pentingnya traceability dalam operasional SPPG.

Traceability memungkinkan pengelola mengetahui:

Bahan baku → Supplier → Batch produksi → Proses produksi → Paket makanan → Distribusi → Penerima

Dengan sistem tersebut, ketika ditemukan masalah, pengelola dapat lebih cepat menentukan produk mana yang terdampak.

Tanpa sistem traceability yang baik, proses investigasi dapat menjadi jauh lebih sulit karena pengelola harus mencari kembali informasi produksi secara manual.

ISO 22000 dan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Prinsip tersebut juga relevan dengan ISO 22000, yaitu standar internasional untuk sistem manajemen keamanan pangan.

ISO 22000 menggunakan pendekatan sistematis untuk mengendalikan bahaya keamanan pangan di sepanjang rantai pangan. Fokusnya bukan sekadar menghasilkan produk yang baik, tetapi membangun sistem yang mampu mengidentifikasi, mengendalikan, memantau, dan mengevaluasi risiko keamanan pangan.

Bagi SPPG, pendekatan sistem manajemen seperti ini dapat membantu membangun proses yang lebih terstruktur.

Contohnya adalah:

  1. Identifikasi bahaya keamanan pangan.
  2. Penentuan titik pengendalian.
  3. Pemantauan parameter proses.
  4. Pencatatan hasil monitoring.
  5. Penanganan produk yang tidak sesuai.
  6. Investigasi penyebab masalah.
  7. Tindakan korektif.
  8. Evaluasi efektivitas tindakan.
  9. Perbaikan berkelanjutan.

Ketidaksesuaian Harus Ditindaklanjuti

Dalam sistem manajemen, menemukan masalah bukan merupakan akhir dari proses.

Justru setelah ketidaksesuaian ditemukan, organisasi perlu mencari tahu mengapa masalah tersebut terjadi.

Misalnya, jika ditemukan makanan yang tidak layak, investigasi dapat mencakup:

  • apakah bahan baku bermasalah;
  • apakah penyimpanan tidak sesuai;
  • apakah suhu proses tidak memenuhi ketentuan;
  • apakah terdapat kesalahan penanganan;
  • apakah peralatan tidak higienis;
  • apakah prosedur tidak dijalankan;
  • atau apakah terdapat kesalahan manusia.

Dengan demikian, tindakan korektif tidak berhenti pada membuang atau mengembalikan produk, tetapi juga berusaha mencegah kejadian serupa terulang.

SPPG Membutuhkan Budaya Keamanan Pangan

Semakin besar skala MBG, semakin penting pula penerapan sistem keamanan pangan yang konsisten.

BGN saat ini juga memperketat persyaratan higiene dan sanitasi SPPG. Bahkan, pada Agustus 2026 BGN menegaskan bahwa SLHS menjadi syarat mutlak operasional SPPG.

Hal tersebut menunjukkan adanya pergeseran dari sekadar menjalankan operasional dapur menuju pengelolaan keamanan pangan berbasis standar dan pengendalian risiko.

SLHS, HACCP, GMP, dan ISO 22000 memang memiliki fungsi dan status yang berbeda. Namun, semuanya dapat ditempatkan dalam kerangka yang sama: memastikan makanan yang diproduksi aman dan prosesnya dapat dikendalikan secara konsisten.

Kesimpulan

Ketentuan bahwa satu bagian makanan yang tidak layak dapat menyebabkan seluruh paket MBG dikembalikan menunjukkan betapa pentingnya pengendalian keamanan pangan pada SPPG.

Bukan hanya produk akhir yang perlu diperiksa, tetapi seluruh proses harus dikendalikan.

Mulai dari bahan baku, produksi, higiene, pengendalian suhu, dokumentasi, hingga distribusi perlu menjadi bagian dari sistem keamanan pangan.

Dalam konteks tersebut, prinsip HACCP, traceability, corrective action, risk-based thinking, dan continuous improvement sebagaimana dikenal dalam sistem manajemen keamanan pangan dapat menjadi fondasi penting bagi SPPG untuk meningkatkan konsistensi dan keandalan prosesnya.

Keamanan pangan bukan sekadar memastikan makanan terlihat baik. Keamanan pangan adalah memastikan setiap tahapan yang menghasilkan makanan tersebut berada dalam kondisi terkendali.

Share This Article

share Facebook share Twitter share LinkedIn chat WhatsApp
arrow_back Back to All Articles

Need ISO Certification Consultation?

The NSM expert team is ready to assist you from initial consultation to completed certification.

chat Get Free Consultation Now